Pages

Ads 468x60px

Sep 15, 2015

Teater Of MAN Indrapuri (TROMA) Nominasi Aktor Terbaik

Lamurionline.com--Banda Aceh : M. Faidzal Riski salah satu aktor dari Teater Of MAN Indrapuri (TROMA) Memperoleh Nominasi  aktor terbaik Pada Kompetisi Operet 2015 yang diselenggarakan oleh Fakultas Tehnik bekerja sama dengan BEM Unsyiah di Gedung AAC Dayan Dawod 12-13 September 2015.Pada Kompetisi Operet Ini, TROMA menampilkan Operet berjudul “Perjalanan Wiro Sableng” sebuah Naskah dari Munawir Muhammad Hasan, cerita yang diangkat dari film wiro sableng bercampur dengan kisah hollywood serta kisah percintaaan dari negeri Jepang, sebuah cerita seorang bos Jepang bernama Sakazuki yang diperankan oleh Munandar jatuh cinta kepada seorang gadis jepang Shizuka-san yang diperan kan oleh Muliana Safira, orang Jepang yang selalu memaksakan orangIndonesia serta pemaksaan cinta untuk Shizuka-san.Riski sebagai Wiro Sableng yang sedang jalan-jalan dan tersesat di negeri tersebut akhirnya membebaskan semua pemaksaan yang dilakukanSakazuki. Pada Cerita Ini, Aktor dan Aktris Pendukung Lainnya adalah Luth Thaifa Raihan sebagai Sito Gendeng, Dayat dan Ihsan sebagai Preman Jepang, Nauval dan Raziq sebagai Ninja, safira, Zainab, mulyadi, syakban sebagai penjual serta Ichsan, Rukniza, Wily,  Rara, Wahyu, Ukasyah dan Rifka Aryandi sebagai peran figuran. M. Ridhaillah (artistic).

Riski yang berperan sebagai Wiro sableng pada cerita ini berhasil menarik perhatian para juri, dan keluar sebagai Aktor Terbaik pada kompetisi ini. Kompetisi ini diikuti oleh 20 sekolah SMA Sederajat yang ada di Banda Aceh & Aceh Besar.Bersama Teater Troma, yang diarahkan sutradara Haris Satria, Riski dengan cermerlang menjalin berbagai Acting menjadi kesatuan yang hidup dan memukau di atas panggung. Tubuhnya yang kaku dan aktingnya yang penuh kegilaan, tanpa kehilangan pesona improvisasi-nya, Serta Aktor & Aktris Pendukung Lainnya menjadi bagian tersendiri yang membawa Riski memperoleh Nominasi Tersebut.Kepala Madrasah Arjuna, S.Pd, M.Pd mengatakan bahwa dengan prestasi yang diraih ini, semangat anak-anak MAN Indrapuri dalam berkarya terus meningkat, baik dalam hal Pelajaran, Seni maupun Olahraga,  ini merupakan langkah awal menuju PENSI III yang direncanakan akan bergulir pada awal tahun 2016 mendatang, dan kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung. (Haris S/Red)


Sumber : http://www.lamurionline.com/2015/09/teater-of-man-indrapuri-troma-nominasi.html

Sep 14, 2015

Bibir di Gelas Karya Lina Sundana


Bekas merah membentuk bibir di gelas putih bertuliskan “Papa dan Mama”. Inilah sumbu awal dari kehancuran keluarga Saipul dan Karmila.
Karmila mengumpulkan piring-piring dan gelas kotor dan membawanya ke sumur belakang rumah. Sabun dicolek dan diberi air hingga berbusa. Suasana di sumur sama seperti biasanya, lantai tanah dan dinding rumbia serta spanduk iklan rokok yang telah usang sebagai pintu, juga lampu pijar yang mulai meredup. Kali ini tangan kirinya mengambil gelas putih kosong. Bola matanya berhenti sesaat, menyeringai mendapatkan sebentuk bibir di gelas itu.
Hati Karmila dipenuhi amarah yang amat besar, pikirannya mulai dipenuhi kecurigaan dan ingatan pada kejadian beberapa bulan silam. Rasa sakit hati semakin mendalam pada perempuan selingkuhan suaminya. Ia ingat betul kata-kata mesra dari wanita penggoda itu padasms yang ia temukan.
Karmila langsung beranjak dari batu yang tadi ia jadikan tempat duduk.  Ia sengaja tidak membersihkan gelas itu. Diletakkan gelas itu di meja kayu reot warisan orang tuanya. Ia duduk dengan mulut terus memaki wanita yang telah menggoda suaminya. Rupanya kini wanita penggoda itu telah melangkah terlalu jauh. Beraninya ia memasuki rumah dan meninggalkan bekas bibirnya di gelas itu.
“Dasar jalang! Kali ini tidak ada kata maaf lagi yang ingin kudengar. Akan kuhajar dia. Tunggu saja!” rutuknya. Amarah telah menguasai pikiran Karmila. Tinggal menunggu waktu kapan akan diledakkan emosinya.
Sudah dua jam ia menunggu suaminya pulang. Malam semakin larut saja. Jam dinding mengetuk tiga kali. Dari balik pintu terdengar suara tapak kaki. Suaminya datang. Akhir-akhir ini suaminya sering pulang kemalaman. Saat lelaki  berewokan itu membuka pintu, ia segera menuju dapur mencari sedikit makanan. Karmila yang sedang duduk dengan linangan air mata langsung menusukkan kata dan tanya tanpa salam. Suaranya meninggi disela sunggukan.
“Dari mana saja kamu selarut ini? Mesti ya, pulang selalu malam?”
“Kenapa menangis? Aku lembur,” jawab Saipul heran.
“Bohong! Kamu pasti keluar menemui wanita itu, bukan? Sudah selingkuh lagi kamu? Tak cukup perbuatanmu yang lalu-lalu, tidakkah kau ingat anak kita? Ini pembalasanmu atas kemaafanku? Tega kamu bawa wanita lain ke rumah ini. Siapa lain kalau bukan wanita penggoda itu, kau juga sama seperti dia,” maki Karmila sambil menangis dan berteriak sejadi-jadinya.
“Wanita mana?” Saipul mulai gelagapan menjawab semua pertanyan istrinya yang bertubi-tubi.
Karmila mengamuk, ia tak tahan lagi membendung rasa sakit hati. Tangannya mulai mengambil benda sekitarnya, dilemparkannya barang-barang. Tiba-tiba sekelabat badan kecil berlari cepat memeluk Saipul. Di saat yang sama pula piring kaca melayang ke arah lelaki itu. Anak yang berlari ketakutan itu menangis sambil mengerang. Lamat-lamat hilang. Diam.
***
Lelaki itu duduk dan terdiam di pojok dapur kecil dan sempit. Di sinilah telah terjadi amuk amarah yang dahsyat. Masih tampak piring pecah, gelas, sendok berhamburan, dan linang darah kini menjadi penghias lantai. Mencuat tajam aroma kecurigaan, kesakitan, kepedihan, kehancuran bersatu padu membentuk puncak yang paling tinggi memacak karang kehancuran.
Fajar menyemburkan warna keemasan. Karmila pergi tanpa sepatah kata setelah semua barang-barang ia terbangkan kesana kemari. Luka mendalamnya tampak memenuhi isi ruangan serta rasa kecewa seorang istri. Guratan kaki-kaki berdarah semakin jelas melukis lantai semen yang kasar itu, terus bersambung hingga pintu. Ya, wanita itu menghilang. Tak pernah kembali hingga hari berikutnya padam dan hidup lagi.
Lelaki itu terdiam dalam kehampaan, sesekali menatap kosong ke arah bentuk bibir yang masih melekat pada gelas kosong penyebab keributan. Tangannya mengepal sangat keras, ia tak kunjung beranjak dari posisi awalnya walaupun sudah sekian lama.
Aroma darah semakin terasa seperti bau bangkai, menusuk indra penciuman. Bau ini mulai mewabah pada setiap celah lorong perkampungan. Warga sekampung bertanya-tanya perihal bau yang sangat mencuat dari sebuah rumah kecil di belakang rawa-rawa itu.
Para hansip kampung berjalan menyusuri celah lorong, satu persatu mencari sumber bau yang selama ini menjadi tanda tanya sekaligus meresahkan bagi warga perkampungan itu. Warung-warung sangat dirugikan dalam kejadian ini, mereka harus tutup karena bau bangkai yang menusuk hidung pelanggan, membuat mereka mual saat makan. Tidak cukup sampai disitu, seluruh warga tidak dapat bernafas lega perihal bau yang menyebar ke satu kampung ini. Mereka terpaksa memakai penutup dan menahan mual sampai kepala terasa berputar-putar.
Tidak ada yang bisa menebak asal bau itu. Sebab segalanya masih terlihat seperti biasa di kampung miskin ini. Dukun kampung ikut menganalisis perihal bau yang selama ini, ia hanya memberi isyarat bahwa darah itu berasal dari kehancuran. Semua warga  tidak tinggal diam lagi, sudah dua fajar datang dan pergi. Mereka beramai-ramai ke kantor desa untuk meminta agar segera mencari asal bau yang sangat meresahkan. Anak-anak pun ikut serta, batin mereka seperti ada yang hilang dari salah seorang temannya, tapi mereka tidak begitu yakin.
Kepala desa mulai berdiri di depan warga yang sangat ribut menanyakan perihal bau itu. Ia mulai mengambil toa berhubung michrophone kampung ini sudah rusak, kabelnya dimakan tikus saat musim hama lalu.
“Wargaku sekalian, saya sudah mendengar kabar yang berhembus mengenai bau bangkai yang sangat meresahkan seluruh warga, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari sumber penyebab keresahan ini, saya harap seluruh warga ikut membantu dan mengabarkan bila ada informasi terkait masalah ini. Kami mohon kerja samanya. Terima kasih,” tutup pidato singkatnya.
Seluruh warga mulai berhamburan di jalan-jalan, setiap celah lorong mulai disusuri. Mereka mencari-cari dan membuka tutup tong sampah, mungkin saja di dalam itu ada bangkai yang selama ini disembunyikan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Di balik gunungan sampah mereka menemukan seorang wanita terduduk dikerubungi nyamuk. Tak ada satu orang pun yang berani mendekat. Mereka menebak mungkin itu mayat perempuan gila yang sering mondar mandir di kampung ini.
Akhir-akhir ini, bulan tidak terang seperti biasanya, tampak secercah kesedihan tergantung di atas sana, entah ia juga mencium bau tak sedap dari kampung ini. Wanita itu juga menatap ke arah bulan, ia melihat kesedihan jua. Batinnya tergerak melangkah ke rawa-rawa, ia berjalan dengan lemah, sesekali terduduk dan terseok-seok menyapu tanah jalanan. Ia berhenti di sana, di tempat kejadian tragis menimpanya, diperhatikannya gubuk kecil yang sangat bau itu. Tampak pintu yang masih terbuka lebar dan tapak-tapak darah.
 Wanita itu berjalan menuju pintu itu, membawa segala ketakutan bersama dalam dirinya. Ia mengintip perlahan, tampak dua bayangan di sudut ruangan belakang terduduk di lantai. Lelaki itu mendengar tapak kaki berjalan. Tangan yang mengepal keras itu sudah memegang senjata tajam. Dendamnya semakin kuat mengawasi suara tapak itu. Saat bayangan wanita itu datang, masuk tanpa mengetuk. Saat itulah banjir darah terjadi. Lelaki itu tertawa dan mengeram, “mati kau!”
Seluruh warga kampung mendengar jeritan itu, semua terbangun dan berpencar keluar rumah dan berhamburan di jalan, mereka saling bertanya dan menunjuk gubuk kecil di balik rawa-rawa itu. Mereka memberanikan diri beramai-ramai menggeledah gubuk itu, tercium aroma darah segar dan busuk bercampur di sana. Mereka menemukan tiga mayat penuh darah.
***
“Sebentuk bibir di gelas itu adalah bibirku, aku yang bertanggung jawab terhadap ekonomi keluarga ini, anak kita sakit-sakitan, hidup kita pun di ambang sekarat, aku mengggunakan berbagai cara untuk bekerja. Aku menjadi banci untuk memapah perekonomian keluarga kita, maafkan aku yang telah berbohong.”
“Apa? Kau menjadi banci? Yang benar saja. Tidak perlu mendustaiku demi melindungi wanita jalang itu,” sahut Karmila.
“Aku bersumpah tidak bohong. Ini kejujuranku. Kau bisa…”
“Kalau begitu kau sudah menjadi najis. Najis. Najis!”
“Cukup menghinaku! Itu juga untukmu,” ujar Saipul dengan tatap bengis.[]
Lien adalah pegiat aktif di Teater Nol Unsyiah. Bekerja di A Plus Creative Learning Center. Ia juga tercatat sebagai murid kelas menulis prosa angkatan kedua di Komunitas Jeuneurob.
Sumber : www.lintasabas.com 

Sep 10, 2015

Oktober STA Gelar Workshop dan Study Pentas


Oktober Seuramoe Teater Aceh menggelar Workshop dan Studi Pentas, kegiatan ini merupakan program yang akan diikuti oleh komunitas teater Banda Aceh, Aceh Besar dan Sabang serta juga akan diikuti oleh perwakilan 5 kab/kota seperi Bireune, lhokseumawe, langsa, aceh jaya dan abdya.
Selain juga merupakan ajang tahunan silahturahim para kelompok seni dan pelaku seni teater, kegiatan ini juga sebagai persipan tuan rumah arisan teater IV langsa tahun 2016. Kegiatan yang mengusung tema “Teater sebagai cerminan generasi muda kreatif dan membangun pribadi mandiri “ akan digelar di dua tempat berbeda yaitu di Auditorium RRI banda Aceh dan Rumah Budaya Banda Aceh.
Selain rangkaian acara workshop dan studi pentas, Seuramoe Teater Aceh juga mengadakan doa bersama untuk para seniman teater senior banda aceh seperti alm. Yun casalona, Maskirbi, Jol Hendra, Aa Manggeng dan lainnya.
Harapannya kegiatan ini adalah terdatanya sanggar seni teater yang memiliki kapasitas dan kualitas untuk menjadi perwakilan Aceh di tingkat event nasional.

Info lebih lanjut : Dody Resmal, S.T (081362983984)




Sep 9, 2015

Palu, tuan rumah TEMU TEMAN XIII 2015




Ilham Syahputra, Pimpin Teater Gemasastrin !



Langkah kami memang tak sempat menyapa kawan-kawan, namun langit yang satu jua tetap berseru kita adalah satu dan "Kebersamaan adalah segalanya". selamat kepada Ilham Syahputra, terpilih sebagai Ketua Teater Gemasastrin periode 2015 - 2016 terus bekarya dan bergeliat untuk teater aceh.
 
 
Blogger Templates